Menjadi Pedagang Sehari
Berperan sebagai seorang pedagang tidaklah sesulit yang dibayangkan. Hanya perlu membuang malu dalam menawarkan dagangan serta tidak henti-hentinya menawarkan dagangan pada calon pembeli. Menjadi pedagang pun harus memiliki pendirian yang kuat soal harga karena kalau tidak pendirian kita maka dengan mudahnya terpengaruh oleh harga yang ditawarkan pembeli. Ternyata calon pembeli yang mayoritasnya ibu-ibu kalau menawar paling jago hingga mampu menjatuhkan harga yang ditetapkan penjual. Seorang penjual juga harus memiliki pengetahuan dan informasi-informasi mengenai barang dagangannya agar mampu menjawab seabrek pertanyaan dari calon pembeli yang selalu menanyakan kualitas barang dan hal-hal lain yang bersangkutan dengan barang tersebut. Selain itu ternyata seorang penjual harus mampu mengembangkan komunikasi yang baik dengan pembelinya. Ungkapan “pembeli adalah raja” sudah sepatutnya dijunjung tinggi oleh penjual dengan bersikap ramah, sopan dan selalu tersenyum. Service yang baik bisa mendatangkan rejeki. Satu hal lagi seorang penjual harus bisa mengetahui tempat-tempat strategis untuk berdagang sehingga penjualnya dapat berjualan dengan aman, nyaman dan tentunya ramai pembeli.
“mbak,mas bajunya…kaos lima ribu saja,kemeja sepuluh ribuan, jins dua puluh ribu saja”,teriak teman saya.
Iya Pak…,baju buat anaknya, buat istrinya, batik pak buat kondangan, masih bagus deh…”tambahku sambil menyapa sekelompok calon pembeli yang lewat di depan kami. Mereka tampaknya tertarik dengan dagangan saya dan teman saya. Saya rasa, kami terlalu menyolok karena berteriak-teriak menawarkan dagangan kami. Sedangkan di sekitar kami ada pedagang baju lainnya yang tidak menjual barang dagangannya dengan strategi seperti yang kami lakukan. Mungkin mereka berpikir, kalau pembeli butuh pasti akan datang membeli. Di depan kami ada bapak-bapak pedagang perabot rumah tangga dan pedagang baju yang sering menggoda kami tak seperti bapak Penjual ice cream yang terus menyemangati kami. Beliau sempat membangkitkan semangat saya ketika saya merasa lelah dan kepanasan. Kebetulan, kami menempati posisi yang salah karena tepat menantang matahari pagi yang mulai meninggi. Mungkin kami agak telat, karena kami baru datang sekitar jam 06.00 pagi. Tentunya, sudah sangat terlambat bagi seorang penjual yang sebenarnya.
Sebenarnya, sudah lama saya penasaran dengan pasar Kaget padahal sudah kurang lebih 2 tahun saya mendengarnya karena banyak teman-teman saya yang sudah berkunjung ke sana.Namun ini pertama kalinya saya ke pasar Kaget tetapi bukannya sebagai calon pembeli namun sebagai penjual. Cukup mengejutkan memang.
Pasar Kaget dimulai kira-kira pukul 05.00 pagi dan berakhir paling lambat pukul 12.00.
Setelah kami bertanya pada seorang ibu yang mengaku menjadi penggagas terbentuknya pasar Kaget di Kutek, ternyata para pedagang sebenarnya sudah datang dari pukul 05.00 pagi untuk menggelar dagangannya.
Menurut seorang ibu yang merupakan salah satu tokoh penggagas adanya pasar Kaget di Kutek mengaku pada awalnya beliau dan saudara-saudaranya yang bermukim di Kutek iseng- iseng berdagang makanan pasar di komplek UI tepatnya stadion UI karena banyaknya orang-orang yang menjadikan lingkungan UI sebagai tempat lari pagi. Entah mengapa, dari beberapa orang pedagang kemudian menjadi sangat penuh sehingga stadion UI tidak mampu menampung penjual yang begitu banyak. Tadinya hanya menjual jajanan pasar, kemudian berkembang dari jajanan pasar, sayur mayur, perabotan rumah tangga, pakaian, dan pernak-pernik lainnya. Pasar yang kemudian dikenal sebagai Pasar Kaget ini kemudian dipindahkan ke daerah kukusan Kelurahan atau yang biasa dikenal degan nama Kukel. Pedagang-pedagang menggelar dagangannya di sepanjang jalan daerah kukel. Pasar kaget tidak bertahan lama di daerah Kukel kemudian dipindahkan ke daerah Kutek.
Inilah sedikit pelajaran yang saya ambil dari pengalaman saya selama sehari menjadi seorang padagang baju bekas di Pasar Kaget Kutek. sudah Sungguh sangat menyenangkan dan menjadi pegalaman tak terlupakan. Kegiatan jualan ini adalah salah satu usaha dari tim Danus Seminar Nasional Kimia UI yang membutuhkan dana yang lumayan banyak. Kebetulan saya bergabung dalam kepanitiaan ini dan bergabung membantu seksi dana dan usaha(danus). Banyak usaha-usaha yang kami lakukan diantaranya:jualan minuman, jualan kue-kue di kelas, jualan baju flannel dan terakhir ini menjual baju-baju bekas yang kami kumpulkan dari teman-teman kami. Usaha yang terakhir ini yang paling membuahkan hasil karena lebih banyak keuntungan dalam beberapa jam dan yang terpenting tanpa modal lagi. Hanya dibutuhkan keberanian dan kemampuan untuk menawarkan dagangan. Dagangan kami yang tadinya 4 kardus,bersisa 2 kardus. Namun demikian, keuntungan kami hampir sama dengan upah bekerja part time di perpustaakan salaam 40 jam. Cukup lumayan bukan?
Mungkin untuk keadaan terdesak, saya bisa menjadi seorang penjual baju bekas.
Januari 24, 2010 pada 7:49 pm
TERIMAKASIH ATAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN/REFRENSI UNTUK REGENERASI. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com
Januari 28, 2010 pada 1:06 pm
sama-sama