A hong
Perjalanan ke curug Nangka adalah perjalanan yang tidak terencanakan. Hari Selala, 26 Januari 2010, saya dan teman-teman saya: Daniel, Wawan, Tea dan Cuni berniat menuju curug Cilember. Sebenarnya, persiapan yang kami lakukan cukup minim. Kami hanya membawa beberapa potong pakaian, tanpa persiapan lainnya seperti penginapan, atau tenda untuk tempat kami menginap. Kami berjalan dengan ketidakpastian, karena satu pun dari kami tidak mengetahui dengan pasti rute perjalanan kami. Sungguh tidak masuk akal memang, namun ketidakjelasan dan ketidakpastian selalu membuat suatu rencana bisa terlaksana.
Kami berkumpul di es pocong daerah Kober, Margonda Depok. Perjalanan dimulai dengan menggunakan KRL ekonomi menuju kota Bogor. Di perjalanan, kami saling berdiskusi untuk kejelasan perlengkapan dan hal-hal yang kami butuhkan untuk kemping. Masih dengan ketidakjelasan. Menurut informasi yang kami peroleh dari internet, kami harus mengambil angkot ke arah Sukasari, maka kami mencari angkot bernomor 02. kebetulan , angkot yang kami naiki kosong. Sopir yang masih tampak sebaya kami, menanyakan ke mana tujuan kami dengan aksen Sundanya.
“a..tau jalan ke Cilember ga?,”Tanya teman saya.
“ngapain ke cilember?,”dia balas bertanya. “mau liat curug, katanya di sana ada tempat kemping”
“oh…,mau pada liat curug, ngapain pada jauh-jauh ke Cilember. Mendingan ke curug Nangka aja”,katanya.
“lebih dekat curug Nangka, bagus pula. Saya ga bohong. Ada penginapan. Saya antar deh, sampai depan lokasi”tambahnya lagi.
Kami saling berpandangan. Memang perjalanan ke Cilember belum begitu kami kuasai rutenya. Kami pun belum meminjam perlengkapan kemping. Kami kembali menanyakan lokasi, view, penginapan dan apa yang bisa kami dapat di curug Nangka. Sopir angkot yang tampak memiliki pengaruh yang besar ini, kembali meyakinkan kami bahwa curug Nangka, lumayan bagus dan yang penting dekat. Maka rute perjalanan pun segera berubah ke curug Nangka bukan curug Cilember. Selama perjalanan, kami disuguhi guyonan-guyonan lucu sopir angkot.
“apalagi ada jajannya mas,”katanya dengan mimik serius
“wah…,ada-ada saja a…,”
Kami hanya tertawa. Rupanya, sopir angkot ini bukan seperti sopir kebanyakan yang lebih banyak berdiam diri.
“masih mahasiswa?”
“iya…,udah berkeluarga a?,”Tanya Wawan ingin tahu.
“wah…,saya sudah punya dua anak, pertama umur dua tahun, yang kedua baru saja lahir”
Kami kaget. Entahlah, dia mungkin cuma bercanda.
“emank umur berapa sih a?,”Tanya Daniel tidak percaya.
“dua enam. Saya nikahnya, waktu tamat SMA. Istri saya sudah hamil waktu SMA, dia tiga tahun lebih tua.”
“gimana tuh, rasanya kawin muda?”Tanya Wawan lagi sambil bercanda.
Sontak, kami tertawa ngakak. Sopir angkot itu tidak kelihatan malu-malu.
“wah…,enak aj mas. Kalau lagi kepengen, istri lagi masak, ditarik aja ke kamar.”
Kami menjawab dengan tawa.
Dia menyambung lagi.
“daripada jajan di luar”
“pake perencanaan ga a?”
“banyak anak banyak rejeki. Banyak orang kaya, nangis-nangis mau dapat anak. Mending punya banyak anak daripada tidak sama sekali.”
“wah…,kalau saya mah beda lagi, a. nikah urusan belakangan. Ada duit, ada semuanya.”
Perjalanan selanjutnya lebih ramai lagi karena kami dan sopir angkot saling bercanda.
“matanya sipit gitu. Ada Cinanya ya?”Dia tidak menjawab. Salah satu teman saya bertukar nomor telepon untuk menghubungi dia lagi waktu pulang. Dia mengaku bernama A Hong.
Kami tiba di lokasi wisata curug Nangka. Tidak begitu jauh memang dari kota Bogor. Lumayan sejuk dan menenangkan. Setelah melakukan pembayaran di loket masuk dengan tarif Rp. 12.500 per orang, kami pun masuk dan berniat mencari tempat penyewaan tenda. Kami bertemu dengan seorang emak yang biasa berjualan di sekitar lokasi. Beliau ternyata memiliki warung di sekitar situ. Kami menanyakan tempat penyewaaan tenda. Namun, atas saran dari beliau, kami memutuskan untuk menginap di warungnya, karena cuaca yang kurang begitu bagus untuk membuat tenda. Warung emak Adah, yang sempit ternyata masih menyediakan penginapan untuk orang-orang yang datang menginap. Di atas langit-langit rumahnya, tampak ada tangga yang menghubungkan kami dengan sebuah ruangan luas tempat untuk tidur. Yah.., meski tidak menginap di villa yang nyaman dengan fasilitas yang lumayan, kami cukup senang untuk tinggal di gubug emak dengan bayaran 70.000/2 malam. Cukup murah meriah, asal ramai-ramai pasti akan menyenangkan.
Ternyata memang menyenangkan. Kami melewati dua hari dengan berjalan ke curug kurang lebih 100m dari warung mak Adah, bermain di kali, foto-foto, silensium(menikmati alam dalam keheningan) dan membuat api unggun di malam hari.
Januari 29, 2010 pada 4:55 am
Setiap perjalanan hidup selalu punya cerita untuk dikisahkan…. Terus saja menulis….!!
Februari 3, 2010 pada 2:16 am
makasih om….saya jd semngat untuk terus menulis…