Ingatan yang buruk
Melupakan kunci, flasdish atau hp mungkin sudah hal biasa. Namun saya melupakan tas hitam saya yang cukup gede. Apa mau dikata, saya sendiri heran. Beberapa hari yang lalu, ketika pulang dari Samadi( untuk kegiatan komjak), saya singgah sebentar di warnet dekat kosan. Bawaan saya lumayan banyak, ada tas hitam saya di punggung, tas samping dan tas plastic berisi makanan hasil panenan dari Samadi(lumayan buat makan malam…hehehe). Tidak lupa, sekotak daging nangka yang saya beli di stasiun Tebet. (duuuh, tumbenan banget, bisa ketemu bapak2 jualan nangka, bukannya beli tiket kereta, malah masih nawar harga nangka. Untunglah, tidak ketinggalan kereta
Kurang lebih satu setengah jam saya ngenet, dan ingin pulang cepat-cepat. Ingin cepat-cepat makan nangka, karena harumnya sangat merasuk. Pulanglah saya dengan langkah ringan ke kosan, tanpa sadar kalau meninggalkan tas punggung saya yang berisi pakaian dan dompet berisi seluruh hidup saya( atm, ktm, ktp)
Sampai kosan pun saya teap tidak ingat, menghabiskan buah nangka, menonton televisi, dan tidur.
Hari pun berganti, saya masih tidak sadar. Kira-kira jam 9.40 saya harus ke kampus. Maka saya mencari-cari tas punggung saya ini untuk saya gunakan membawa buku-buku saya. Hemmmmm…,mencari di dua ruangan kosan. Sungguh aneh kalau tidak ada tas saya, padahal biasanya saya geletakan begitu saja di lantai di bawah ranjang. Nah, yang ada cuma tas samping saya yang hijau. Saya masih mencari-cari, belum sadar juga.
Saya menyerah untuk mencari karena tidak mungkin ada di mana-mana lagi. Saya mencoba mengingat-ingat lagi. Sebelumnya saya tidak yakin, masa saya meninggalkan tas saya di warnet. Barang sebesar itu, masa saya lupakan. Tidak mungkin. Namun itulah satu-satunya tempat yang saya singgahi setelah pulang dari Samadi. Bukan tidak mungkin ketinggalan.
Akhirnya, dengan menahan malu, saya menanyakan perihal tas punggung saya ke warnet. Mas-mas warnetnya senyum-senyum.
“wah mba…,ini ketinggalan paling parah…”
Wkwkwk, saya cuma bias sumringah. Ingatan saya sepertinya mulai parah.
Kata temen saya, “awas lo kalo punya anak, ntar anaknya ketinggalan…”
September 30, 2010 pada 1:39 pm
jangan sampai lupa yang kata-kata terakhir tu..
Oktober 1, 2010 pada 7:18 am
hahaha…..iya…wkwkwk.. itu parah abis..hehehe